IKA-KM > Cerita Alumni > Khitanan di Pelosok Kepulauan Selayar

Khitanan di Pelosok Kepulauan Selayar

Oleh admin, dibaca 2,149 kali

Oleh dr. Jonadre Fauza, Alumni FK Univ. Malikussaleh, melaporkan dari Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Bertugas di daerah terpencil tentunya merupakan tantangan bagi saya untuk bisa menjalankan praktek kedokteran profesional. Selama satu tahun saya bertugas di kepulauan Selayar sebagai dokter di puskesmas dan RSUD selayar. Banyak hal yang menarik dan menjadi pengalaman saya. Saya coba menulis tentang khitanan. Seperti di aceh, selayar adalah daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tentu secara syariat, kaum laki – laki disunnahkan untuk berkhitan. Ada hal yang unik dalam pelaksanaan khitan di selayar, masyarakat menyebutnya dengan “sunat kampung”.

Khitan berasal dari bahasa Arab Khatana yang artinya memotong. Secara terminologi pengertian khitan adalah memotong bagian kulit (quluf) yang menutupi ujung dzakar (khasafah, praeputium glandis), dalam ilmu kedokteran disebut circumcision yang merupakan salah satu tindakan kedokteran.

Teknik dalam pelaksanaan khitan secara kedokteran terbagi 2 langkah, pertama melakukan pembiusan lokal (local anesthetic) yang bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit untuk mempermudah tindakan khitan maupun memberikan rasa nyaman pada anak selama khitanan. Selanjutnya, dilakukan pemotongan kulit yang menyelubungi ujung penis menggunakan pisau bedah (Surgical Blade) dan dilakukan penjahitan untuk menghubungkan kulit yang terpotong.

Sunat kampung sudah menjadi adat kebiasaan turun – menurun di masyarakat sekitar yang ditujukan pada anak laki – laki kisaran usia 9 – 13 tahun. Sebelum dilakukan, biasanya anak yang ingin disunat akan menyelenggarakan acara adat. Kegiatan ini dilakukan disetiap memasuki masa liburan sekolah. Proses sunat kampung dilakukan oleh orang tetua setempat dengan cara mengiris “sedikit” kulit menggunakan pisau silet, tanpa dilakukan pembiusan dan penjahitan. Yang berarti kulit yang menyelubungi ujung penis masih masih ada.

Sunat kampung sebenarnya menjadi tantangan bagi dokter untuk memberikan pemahaman kesehatan yang baik sesuai dengan prinsip praktek kedokteran. Saya bersama dokter – dokter yang bertugas di kepulauan selayar mencoba melakukan pendekatan kepada kepala dinas kesehatan dan berdiskusi untuk merencanakan khitanan massal, kami memfokuskan desa yang terpencil dan akses kesehatan yang sulit sebagai target pelaksanaan ini. Pendekatan berlanjut kepada pemuka masyarakat setempat.

Sempat ada permasalahan yaitu orang tua tetap ingin anaknya disunat kampung. Berkat pendekatan dan sosialisasi yang baik akhirnya banyak orang tua yang bersedia dilakukan khitanan secara kedokteran. Masyarakat sangat antusias dan senang menyambut program khitanan massal. Kami melakukan khitanan massal dibagi beberapa tahap dengan total jumlah anak yang disunat 50 anak.

Saya memikirkan sebuah solusi yang baik untuk tetap menghargai adat sunat kampung, yaitu setelah secara adat anak telah dilakukan sunat kampung, maka selanjutnya anak juga tetap mengikuti khitanan dengan pendekatan kedokteran. Sehingga yang menjadi tujuan dan manfaat dari khitanan itu dapat tercapai dengan baik.

Suksesnya program ini menjadi harapan dan kebahagiaan kita. Masyarakat setempat pun sangat berharap program seperti ini dapat rutin dilakukan dan sebisa mungkin dapat menjangkau daerah yang lebih jauh dan terpencil lagi. Pelayanan kesehatan yang baik menjadi harapan kita semua demi tercapainya target Indonesia Sehat.

Ini menjadi pembelajaran berharga bagi saya. Perjuangan untuk memberikan pelayanan kesehatan harus terus kita lakukan dengan baik, tepat dan bijaksana. Mungkin saat ini tentang sunat kampung, dan ada banyak permasalahan kesehatan lainnya didaerah kita yang harus dicermati dan dinanti untuk dapat diselesaikan. Semoga.

Artikel bermanfaat? bagikan ke Facebook, Twitter dan Google+